KHOTMIL QUR'AN BINNADHOR DAN ZIARAH MAKAM LELUHUR

  • Aug 01, 2024
  • Lely

Kamis, 1 Agustus 2024 bertempat di Pendopo Desa Ngijo Pelaksanaan Pembacaan Khotmil Qur'an Binnadhor dan dilakukan serentak di Masjid dan Musholah yang ada diwilayah Desa Ngijo dengan harapan Rangkaian acara "Grebeg Suro" Selamatan Desa Ngijo dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1446 H bisa terlaksana dengan baik dan lancar. Pada Kegiatan ini Pemerintah Desa Ngijo mengundang 7 Majlis Pembaca Alqur'an yang  dilakukan mulai dari  jam 7 pagi. Pembukaan oleh Bapak modin Rohmad Mustakim yang diawali dengan Tawasul dan kirim doa untuk seluruh arwah. dilanjutkan pembacaan Ayat suci al Qur'an secara bergantian. Setelah kegiatan Khotmil Qur'an dilanjutkan dengan Ziarah kemakam leluhur dengan pelaksanaan dimulai pukul 3 sore yang diikuti oleh Kepala Desa beserta perangkat, BPD, Ketua RW beserta pengurus, dan Tokoh masyarakat. Makam yang dikunjungi yakni makam leluhur Desa Ngijo yakni makam Mbah Sibah dan Makam Singo Joyo yang terletak di GPA RW 15.

Ziarah makam sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari upaya untuk menjalin relasi social, baik kepada sesama yang masih hidup atau terhadap yang sudah meninggal. Bukankah semua meyakini bahwa seseorang yang meninggal itu jasadnya saja, tetapi rohnya masih hidup di alam lain / alam barzakh. Dengan demikian, sesungguhnya terhadap yang meninggal pun masih terdapat “komunikasi” berbasis ruh dan bukan jasad. Salah satu komunikasi tersebut adalah melalui bacaan AlQur’an, atau doa yang dilantunkan yang masih hidup. 
Oleh karena itu, ada tiga hikmah yang bisa dipetik dari menjalani ziarah kubur secara sosiologis, yaitu: pertama, ziarah kubur merupakan bentuk dari komunikasi transcendental antara yang masih hidup dengan roh yang berada di dalam alam barzakh. Jika ziarah itu dilakukan dari anak, cucu atau kerabat maka hal ini dalam kerangka memenuhi anjuran Nabi Muhammad SAW bahwa amalan yang tidak terputus adalah berasal dari anak atau cucu atau “kerabat”. Amal anak shaleh yang mendoakan orangtuanya atau “kerabatnya” merupakan amalan yang tidak terputus meskipun orang tuanya sudah meninggal. 
Kedua, makam bagi orang Islam Nusantara bukan tempat yang angker atau wingit. Makam adalah tempat untuk menempatkan jasad para leluhur yang sudah meninggal. Oleh karena itu menjaga kebersihan dan kenyamanan di dalam berziarah tentu memiliki dimensi sakralitas dan profanitas sekaligus. Islam sangat menekankan kebersihan di rumah, di lingkugan dan termasuk di makam atau kuburan. Orang berziarah itu salah satunya adalah untuk membersihkan makam leluhur agar terlihat indah oleh mata dan nyaman di kala berziarah. 
Ketiga, di makam itu tempat untuk berdoa kepada Allah. Jika di makam leluhur, maka kita mendoakannya, membacakan ayat-ayat Alqur’an dan membaca kalimat Tauhid yang tujuannya agar oleh Allah dapat dijadikan sebagai instrument untuk mengampuni atas semua kekhilafannya.